Friday, December 31, 2010

Kisah Muktabar : Ashabul Ukhdud

BISMILLAH...
s0013


Kisah dipetik daripada hadis sahih riwayat Imam Muslim dalam Kitab Az-Zuhd war Raqa`iq, bab Qishshah Ashhabil Ukhdud (no. 3005), dari Shuhaib bin Sinan radhiyallahu 'anhu, bahawa Rasulullah saw bersabda (yang bererti):


Pada zaman dahulu, sebelum masa kalian, ada seorang raja, dia mempunyai seorang tukang sihir. Ketika tukang sihir ini sudah semakin tua, dia berkata kepada raja tersebut: “Saya sudah tua, carikan untukku seorang pemuda remaja yang akan saya ajari sihir.” Maka raja itupun mencari seorang pemuda untuk diajari ilmu sihir.


Adapun pemuda itu, di jalanan yang dilaluinya (menuju tukang sihir) itu ada seorang rahib (ahli ibadah). Lalu dia duduk di majlis rahib tersebut, mendengar syarahannya dan ternyata huraian tersebut menakjubkannya. Kemudian, dia menemui tukang sihir itu. Malangnya, dia dipukul oleh tukang sihir tersebut. Pemuda itupun mengadu keadaannya kepada si rahib. Kata si rahib: “Kalau engkau takut kepada si tukang sihir, katakan kepadanya: ‘Aku ditahan oleh keluargaku.’ Dan jika engkau takut kepada keluargamu, katakan kepada mereka: ‘Aku ditahan oleh tukang sihir itu’.”


Ketika dia dalam keadaan demikian, datanglah seekor binatang besar yang menghalangi orang banyak. Pemuda itu berkata: “Hari ini saya akan tahu, tukang sihir itu yang lebih utama atau si rahib.” Lalu dia mengambil sebiji batu dan berkata: “Ya Allah, kalau ajaran si rahib itu lebih Engkau cintai daripada ajaran tukang sihir itu, maka bunuhlah binatang ini agar manusia dapat lalu.” Pemuda itu melemparkan batunya hingga membunuhnya. Akhirnya manusiapun dapat melaluii perjalanannya.


Kemudian pemuda itu menemui si rahib dan menceritakan keadaannya. Si rahib berkata kepadanya: “Wahai anakanda, hari ini engkau lebih utama daripadaku. Kedudukanmu sudah sampai pada tahap yang aku lihat saat ini. Sesungguhnya engkau tentu akan menerima cubaan, maka apabila engkau ditimpa satu cubaan, janganlah engkau menunjuk diriku.”


Pemuda itupun akhirnya mampu mengubati orang yang dilahirkan dalam keadaan buta, sopak, dan mengubati orang ramai dari berbagai penyakit. Berita ini sampai ke telinga orang bawahan raja yang buta matanya. Diapun menemui pemuda itu dengan membawa hadiah yang banyak, lalu berkata: “Semua hadiah yang ada di sini adalah untuk engkau, saya kumpulkan, kalau engkau dapat menyembuhkan saya (dari kebutaan ini).”


Anak muda itu menjawab: “Sebetulnya, saya tidak dapat menyembuhkan siapapun. Tapi yang menyembuhkan itu adalah Allah Subhanahu wa Ta'ala. Kalau engkau beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, saya doakan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, tentu Dia sembuhkan engkau.”


Orang bawahan raja itupun beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, lalu Allah Subhanahu wa Ta'ala menyembuhkannya. Kemudian dia menemui raja dan duduk bersamanya seperti biasa. Raja itu berkata kepadanya: “Siapa yang sudah mengembalikan matamu?”


Dia menjawab: “Rabbku.” Raja itu bertanya: “Adakah kamu mempunyai tuhan selain aku?” Orang itu berkata: “Rabbku dan Rabbmu adalah Allah Subhanahu wa Ta'ala.”


Raja itupun menangkapnya dan tidak berhenti menyiksanya sampai dia menunjukkan si pemuda. Akhirnya si pemuda ditangkap dan dibawa ke hadapan raja tersebut. Sang raja berkata: “Wahai anakku, telah sampai kepadaku kehebatan sihirmu yang dapat menyembuhkan buta, sopak, dan kamu berbuat ini serta itu.”


Pemuda itu berkata: “Sesungguhnya saya tidak dapat menyembuhkan siapapun. Tapi yang menyembuhkan itu adalah Allah Subhanahu wa Ta'ala.”


Raja itu menangkapnya dan terus menerus menyiksanya sampai dia menunjukkan si rahib. Akhirnya si rahib ditangkap dan dihadapkan kepada sang raja dan dipaksa: “Keluarlah dari agamamu.” Si rahib menolak. Raja itu minta dibawakan sebuah gergaji, lalu diletakkan di atas kepala si rahib dan mulailah kepala itu digergaji hingga terbelah dua. Kemudian diseret pula teman duduk raja tersebut, dan dipaksa pula untuk kembali murtad dari keyakinannya. Tapi dia menolak. Akhirnya kepalanya digergaji hingga terbelah dua.


Kemudian pemuda itu dihadapkan kepada raja dan diapun dipaksa: “Keluarlah kamu dari keyakinanmu.” Pemuda itu menolak.


Akhirnya raja itu memanggil para tenteranya: “Bawa dia ke gunung ini dan itu, dan naiklah. Kalau kalian sudah sampai di puncak, kalau dia mahu murtad (bawa pulang). Kalau dia tidak mahu, lemparkan dia dari atas.”


Merekapun membawa pemuda itu ke gunung yang ditunjuk. Si pemuda pun berdoa: “Ya Allah, lepaskan aku dari mereka dengan apa yang Engkau kehendaki.”


Seketika gunung itu bergegar dan mereka pun terpelanting jatuh. Pemuda itu datang berjalan kaki menemui raja.


Raja itu berkata: “Apa yang dilakukan para pengawalmu itu?”


Kata si pemuda: “Allah Subhanahu wa Ta'ala menyelamatkanku dari mereka.”


Kemudian raja itu menyerahkan si pemuda kepada beberapa orang lalu berkata: “Bawa dia dengan perahu ke tengah laut. Kalau dia mahu keluar dari keyakinannya, (bawa pulang), kalau tidak lemparkan dia ke laut.”


Merekapun membawanya. Si pemuda berdoa lagi: “Ya Allah, lepaskan aku dari mereka dengan apa yang Engkau kehendaki.”


Perahu itu karam dan mereka pun tenggelam. Sedangkan si pemuda berjalan dengan tenang menemui raja.


Raja itu berkata: “Apa yang dilakukan para pengawalmu itu?”


Kata si pemuda: “Allah Subhanahu wa Ta'ala menyelamatkanku dari mereka.”


Lalu si pemuda melanjutkan: “Sesungguhnya engkau tidak akan dapat membunuhku sampai engkau melakukan apa yang kuperintahkan.” Sang raja bertanya: “Apa itu?”


Kata si pemuda: “Kau kumpulkan seluruh manusia di satu tempat, kau salib aku di sebatang pohon dan ambil sebatang panah dari bekas panahku kemudian letakkan pada sebuah busur lalu ucapkanlah: ‘Bismillah Rabbil ghulam’ (Dengan nama Allah, Rabb si pemuda), dan panahlah aku dengan panah tersebut. Kalau engkau melakukannya nescaya engkau akan dapat membunuhku.”


Raja itupun mengumpulkan seluruh manusia di satu tempat dan menyalib si pemuda, kemudian mengeluarkan anak panah dari bekas si pemuda lalu meletakkannya pada sebuah busur dan berkata: “Bismillahi Rabbil ghulam”, kemudian dia melepaskan panah itu dan tepat mengenai pipi si pemuda. Darah mengucur dan si pemuda segera meletakkan tangannya di pipinya dan diapun mati. Serta merta rakyat banyak yang melihatnya segera berkata: “Kami beriman kepada Rabb si pemuda. Kami beriman kepada Rabb si pemuda. Kami beriman kepada Rabb si pemuda.”


Raja itupun didatangi pengikutnya dan diceritakan kepadanya: “Apakah anda sudah melihat, apa yang anda khawatirkan, demi Allah sudah terjadi. Orang banyak sudah beriman (kepada Allah).”


Lalu raja itu memerintahkan agar menggali parit-parit besar dan menyalakan api di dalamnya. Raja itu berkata: “Siapa yang tidak mahu keluar dari keyakinannya, bakarlah hidup-hidup dalam parit itu. .”


Merekapun melakukannya, sampai akhirnya diseretlah seorang wanita yang sedang menggendong bayinya. Wanita itu berundur (melihat api yang bernyala-nyala), khawatir terjatuh ke dalamnya (karena sayang kepada bayinya). Tapi bayi itu berkata kepada ibunya: “Wahai ibu, bersabarlah, karena sesungguhnya engkau di atas kebenaran.”


Allah Subhanahu wa Ta'ala menceritakan kisah ini juga dalam Kitab-Nya yang mulia dalam surat Al-Buruj:
“Demi langit yang mempunyai gugusan bintang, dan hari yang dijanjikan, dan yang menyaksikan dan yang disaksikan. Binasa dan terlaknatlah orang-orang yang membuat parit. Yang berapi (dinyalakan dengan) kayu bakar, ketika mereka duduk di sekitarnya, sedang mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang yang beriman. Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji, Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu. Sesungguhnya orang-orang yang mendatangkan cobaan kepada orang-orang yang mukmin laki-laki dan perempuan kemudian mereka tidak bertaubat, maka bagi mereka azab Jahannam dan bagi mereka azab (neraka) yang membakar….”


Itulah kisah yang Allah Subhanahu wa Ta'ala ceritakan dalam KitabNya yang mulia agar menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudah mereka. Banyak pengajaran yang boleh diambil daripada kisah ini. Fikir-fikirkan sendiri.

WALLAHU TA’ALA A’LAM

halaqah.net


Tuesday, December 21, 2010

Promotion : JKQ Club IIUM


JAM’IYYATU KHADAMATI AL QURAN

INTRODUCTION

Jam’iyyatu Khadamati Al Quran (JKQ) was established since 2000/2001. Since its establishment, JKQ has always committed in promoting the quranic-centric culture among IIUM community especially the HUffaz in collaboration with other society in same base. In quest to remain pious and loyal as a servant of Allah, JKQ through various program continuously promote the basic and the simplicity in Islam as well as the Deen of Syamil. As it is stated in the mission statement, the main thrust of JKQ to generate the prime movers of ummah among who are not only memorized Al Quran and imbued with noble Quranic personality, but also equipped with necessary Islamic thought, committed to the works of Islam and equally important, possessing practical skills in leadership, management and public live to reclaim our tradition of the Huffaz generation.

MOTTO

“The spreading of the Quran in terms of Dirayah and Riwayah”

OBJECTIVES

· To help people learn the Holy Quran by rote.

· To strengthen and support the interaction and solidarity between the Huffaz on and off the campus.

· To join efforts and gear them towards increasing the number of Huffaz.

· To enhance learners’ potential to comprehend the Holy Quran and appreciate its role in private as well as social lives.

· To establish links between the Association of Huffaz inside Malaysia and their counterparts around the world.

· To attend and participate in the conferences, forums, and contests relating to the Holy Quran

· To give special attention to those students who display distinctive capabilities in memorization and provide them moral and financial support.

VISION

Towards a unique Huffaz generation

MISSION

The spreading of Quran in terms of Dirayah and Riwayah

ACTIVITY

· JKQ mass gathering.

· JKQ induction course.

· I’adah class.

· Tajwid class.

· Slaughtering course.

· Fardu Kifayah workshop.

- Slaughtering course

- Jenazah course

· Seminar “Mari Bertaranum”.

ORGANIZATION

ADVISOR

USTAZ SURUR SHIHABUDIN HASSAN

PRESIDENT

AHMAD TAQIYUDDIN MOHD RADZI

VICE PRESIDENT

MASTURA HASHIM

SECRETARY GENERAL

MUHAMMAD AMMAR KASNO

ASST. SECRETARY GENERAL

NOR NADZIRAH MOHD JAAFAR

TREASURER

AHMAD KHAIRUL AZMAN MOHD SALLEH

ASST. TREASURER

SITI SARAH OMAR

TARBIYAH AND EDUCATION

MOHD SAIFUL MAT AMIN

SALSABILA ABDUL RAHIM

ECONOMICS AND WELFARE

MOHD SALIHIN MOHD NAZRI

NUR FADRINA CHE LONG

PUBLICATION AND PUBLIC RELATION

ABDUL HALIM AL AZMI

SITI SARAH BUJANG


links:

website

facebook


Friday, December 17, 2010

Hidup Adalah??

Hidup,
Akan disuap pujian,
Janganlah mudah makan perasan.

Hidup,
Akan dilempar ujian,
Janganlah mudah perasaan terkesan.

Hiduplah,
Berpesan-pesan,
Pada teman,
Pada kawan,
Pada taulan,
Moga memberi pengajaran,
Moga menjadi pedoman,
Moga terlekat di ingatan,
Moga disalurkan anggota amalan.

Hiduplah Islam,
Untuk diri supaya dapat rahmat,
Untuk keluarga hidup berkat,
Untuk masyarakat makmur adat,
Untuk Ummat seraya jagat,
Untuk Daulah di puncak hebat.

Hidup,
Hiduplah,
Bekerjalah seakan tidak habis hayat,
Beribadatlah seakan mati itu dekat.

Hiduplah,
Untuk memberi supaya berkat,
Sampaikan dariku walau sepotong ayat.





****************************************
Ahmad Ashraf Azhar.

Mahallah MARA, PA UIAM Nilai.

11 Muharram 1432/17 Disember 2010 | 0000-0012.

Tuesday, December 7, 2010

alasan apa lagi??

ALASAN APA LAGI?
Tatkala seorang yang kaya raya ditanya.Mengapa engkau tidak beribadah....?Sang hartawan beralasan bahwa ia tidak punya waktu untuk beribadahkarena seluruh waktunya dihabiskan untuk mengurusi kekayaanya.Mungkin ia lupa, bahwa dirinya sebenarnya tidaklah lebih kaya darinabi Sulaeman as. Yang justru menjadi semakin bertakwa denganbertambah kekayaannya.
ALASAN APA LAGI......
Pertanyaan serupa ditujukan pada seorang karyawan.Mengapa engkau tidak beribadah....?Sang karyawan berargumen bahwa ia tidak punya waktu untuk beribadahkarena sibuk dengan pekerjaannya.Mungkin ia pun lupa, bahwa dirinya tidaklah lebih sibuk dibandingkandengan nabi Muhammad saw. yang disamping sebagai kepala negara,panglima perang, beliau juga seorang pendidik umat.
ALASAN APA LAGI......
Begitupun ketika seorang hamba sahaya ditanya.Mengapa engkau tidak beribadah....?Sang hamba sahaya beralasan bahwa ia tidak punya waktu untukberibadah karena sibuk melayani majikannya.Tidakkah ia lupa, bahwa dirinya tidaklah lebih sibuk dan sengsaradibandingkan dengan nabi Yusuf as?
ALASAN APA LAGI......
Seorang yang sakit ditanya dengan pertanyaan yang sama.Mengapa engkau tidak beribadah....?Sang pasien beralasan bahwa ia tidak punya waktu dan tenaga untukberibadah karena derita sakitnya.Cobalah ia ingat, derita penyakitnya itu belumlah seberapanyadibandingkan dengan penderitaan yang dirasakan oleh nabi Ayub as.
ALASAN APA LAGI......?
Ketika pertanyaan yang sama ditujukan pada seorang yang fakir miskin.Mengapa engkau tidak beribadah....?Sang fakir miskin menjawabnya bahwa ia tidak punya waktu untukberibadah karena kemiskinannya.Apakah ia lupa, bahwa ia tidaklah lebih miskin dari nabi Isa as,yang terpaksa harus memakan dedaunan dan minum air hujan?
ALASAN APA LAGI......
Seorang yang tidak berpendidikan ditanyanya.Mengapa engkau tidak beribadah....?Ia beralasan, bahwa ia tidak mampu untuk beribadah karena ilmunya rendah.Tidakkah ia lupa bahwa nabi Muhammad saw itu tdak bisa membaca dan menulis?
ALASAN APA LAGI......?
Padahal Alloh telah jelas berfirman dalam Al-Qur'an surat Adz-Dzariyat ayat56: "Tidak semata-mata Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadahkepada-Ku."
Sekarang.............mahu alasan apa lagi..........

by:-zafiruddin ziyaad

Saturday, November 27, 2010

Amalan Sunnah Sebelum Tidur

Terdapat beberapa amalan yang dilakukan dan dianjurkan daripada sunnah Nabi Muhammad SAW untuk dipraktikkan sebelum seseorang itu melelapkan matanya pada waktu malam. Sayugia bagi setiap ummat yang kasih dan cinta kepada sunnah Baginda SAW tidak meninggalkan amalan-amalan berikut ini. Amalan-amalan tersebut ialah:



(1) Membaca Surah as-Sajdah Dan al-Mulk



Ini berdasarkan perkhabaran dari Jabir RA sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ahmad, al-Bukhari (didalam kitabnya al-Adab al-Mufrad), at-Tirmizi, an-Nasai (didalam kitabnya ‘Amal al-Yaum Wa al-Lailah), ad-Darimi, al-Hakim, Ibnu as-Sunni:



كَانَ رَسُوْلُ اللهِ (ص) لاَ يَنَامُ حَتىَّ يَقْرَأَ ( الم تنزيل ) وَ( تبارك الذي بيده الملك



Maksudnya: Adalah Rasulullah SAW tidak tidur sehingga ia membaca Surah as-Sajdah dan al-Mulk.



Dalam riwayat an-Nasai dan Ibnu as-Sunni terdapat tambahan “setiap malam”:



كَانَ رَسُوْلُ اللهِ (ص) لاَ يَنَامُ كُلَّ لَيْلَةٍ حَتىَّ يَقْرَأَ ……………..



Maksudnya: Adalah Rasulullah SAW tidak tidur setiap malam sehingga ia membaca Surah as-Sajdah dan al-Mulk.



(2) Membaca Dua Ayat Terakhir Surah al-Baqarah (Ayat 285 dan 286)



Sabda Nabi Muhammad SAW didalam hadith riwayat Ahmad, al-Bukhari, Muslim, Abu Daud, at-Tirmizi, an-Nasai (didalam ‘Amal al-Yaum Wa al-Lailah), Ibnu Majah, ad-Darimi, Ibnu Hibban:



الآيَتَانِ مِنْ آخِرِ سُوْرَةِ الْبَقَرَةِ مَنْ قَرَأَ بِهِمَا فِي لَيْلَةٍ كَفَتَاهُ



Maksudnya: Dua ayat dari akhir Surah al-Baqarah, barangsiapa yang membacanya pada waktu malam nescaya mencukupi baginya.



Keterangan: Maksud “mencukupi baginya” ialah terpelihara dari sebarang keburukan dan kejahatan pada sepanjang malam tersebut.



(3) Solat Witir



Berkata Abu Hurairah RA sebagaimana yang diriwayatkan oleh al-Bukhari, Muslim dan lain-lain:



أَوْصَانِي خَلِيْلِي (ص) بِثَلاَثٍ: بِصِيَامِ ثَلاَثَةِ أَياَّمٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ وَرَكْعَتَي الضُّحَى وَأَنْ أُوْتِرَ قَبْلَ أَنْ أَرْقُدَ



Maksudnya: Kekasihku (Nabi Muhammad) SAW telah berwasiat kepadaku dengan tiga perkara: 1) Berpuasa tiga hari pada setiap bulan (tanggal 13, 14 dan 15) 2) Mengerjakan dua rakaat Solat Dhuha 3) Bahawa aku mengerjakan Solat Witir sebelum tidur



Mengerjakan Solat Witir sebelum tidur adalah “pengikat” sebagaimana diistilahkan oleh Nabi Muhammad SAW didalam hadith yang diriwayatkan oleh Ahmad:



الَّذِي لاَ يَنَامُ حَتىَّ يُوْتِرَ حَازِمٌ



Maksudnya: Orang yang tidak tidur sehingga mengerjakan Solat Witir terlebih dahulu adalah pengikat.



Keterangan: Maksud “pengikat” didalam hadith tersebut ialah pengikat antara seseorang dengan solat malam. Dengan erti kata lain sekiranya ia tidak terbangun untuk solat malam pada malam tersebut maka Solat Witir yang telah dikerjakan sebelum tidur itu menjadikannya dicatat sebagai orang yang telah mendirikan malam. Dengan itu tidak luput daripadanya solat malam pada malam tersebut.



Walaupun begitu bagi sesiapa yang terasa kuat dan mampu bangun diakhir malam maka mengerjakan Solat Witir ketika itu adalah lebih afdhal/utama. Ini berdasarkan sabda Nabi Muhammad SAW didalam hadith riwayat Ahmad, Muslim, at-Tirmizi, Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah, al-Baihaqi:



مَنْ خَافَ أَنْ لاَ يَقُوْمَ مِنْ آخِرِ اللَّيْلِ فَلْيُوْتِرْ أَوَّلَهُ وَمَنْ طَمِعَ أَنْ يَقُوْمَ آخِرَهُ فَلْيُوْتِرْ آخِرَ اللَّيْلِ فَإِنَّ صَلاَةَ آخِرِ اللَّيْلِ مَشْهُوْدَةٌ وَذَلِكَ أَفْضَلُ



Maksudnya: Barangsiapa yang takut tidak dapat bangun pada akhir malam maka berwitirlah diawal malam (sebelum tidur), dan barangsiapa yang ingin bangun pada akhir malam maka berwitirlah diakhir malam kerana sesungguhnya solat diakhir malam disaksikan (oleh malaikat), dan itu lebih afdhal.



Perhatikan hadith berikut ini sebagai perbandingan, hadith yang diriwayatkan oleh Abu Daud, Ibnu Khuzaimah, al-Hakim, al-Baihaqi dari Abu Qatadah RA katanya: أَنَّ النَّبِيَّ (ص) قَالَ ِلأَبِي بَكْرٍ: مَتَى تُوْتِرُ؟ قَالَ: أُوْتِرُ قَبْلَ أَنْ أَنَامَ , فَقَالَ لِعُمَرَ: مَتَى تُوْتِرُ؟ قَالَ: أَنَامُ ثُمَّ أُوْتِرُ. قَالَ: فَقَالَ ِلأَبِي بَكْرٍ: أَخَذْتَ بِالْحَزْمِ أَوْ بِالْوَثِيْقَةِ وَقَالَ لِعُمَرَ: أَخَذْتَ بِالْقُوَّةِ



Maksudnya: Sesungguhnya Nabi SAW bertanya kepada Abu Bakar: “Bilakah kamu mengerjakan Solat Witir”, jawab Abu Bakar: “Aku mengerjakan Solat Witir sebelum aku tidur”. Kemudian Nabi SAW bertanya kepada Umar: “Bilakah kamu mengerjakan Solat Witir”, jawab Umar: “Aku tidur kemudian aku bangun mengerjakan Solat Witir”. Sabda Nabi SAW kepada Abu Bakar: “Kamu telah mengambil ikatan atau simpulan” dan bersabda kepada Umar: “Kamu telah mengambil kekuatan (untuk bangun malam)”.



Timbul satu persoalan bagi sesiapa yang mengerjakan Solat Witir sebelum tidur apakah perlu melakukannya sekali lagi apabila bangun pada separuh/akhir malam setelah selesai mengerjakan Solat Tahajjud. Jawapannya ialah tidak perlu, memadai dengan Solat Witir yang telah dikerjakan sebelum tidur itu kerana Nabi Muhammad SAW menegah dikerjakan dua kali Solat Witir dalam satu malam berdasarkan hadith riwayat Ahmad, Abu Daud, at-Tirmizi, an-Nasai, Ibnu Khuzaimah:



لاَ وِتْرَانِ فِي لَيْلَةٍ



Maksudnya: Tidak ada dua witir dalam satu malam.



Tidak timbul soal “membatalkan” Solat Witir yang telah dilakukan sebelum tidur dengan mengenapkan solat tersebut yaitu dikerjakan solat satu rakaat setelah bangun pada separuh/akhir malam untuk Solat Tahajjud kemudian mengerjakan Solat Witir sekali lagi setelah selesai Solat Tahajjud.



Tetap kekal atas Solat Witir yang dikerjakan sebelum tidur dan tidak perlu “membatalkannya” setelah bangun pada separuh/akhir malam merupakan pendapat tiga imam mazhab iatu Imam Malik, As-Syafie dan Ahmad sebagaimana yang disebut oleh Imam at-Tirmizi didalam Sunannya dibawah “Bab-bab Witir: Bab Yang Datang Bahawa Tiada Dua Witir Dalam Satu Malam”.



Jika diteliti, pada hakikatnya sesiapa yang beramal dengan pendapat “membatalkan” Solat Witir sebenarnya telah mengerjakan tiga kali witir dalam satu malam:



1) Sebelum tidur, 2) Selepas bangun dari tidur untuk mengenapkannya, dan 3) Selepas selesai dari mengerjakan Solat Tahajjud.



Oleh sebab itu Imam al-Mubaa-rakpuu-ri menyebut didalam kitabnya “Tuhfah al-Ahwazi” dalam syarah/penjelasannya kepada hadith “Tidak Ada Dua Witir Dalam Satu Malam” diatas menyatakan bahawa beliau tidak pernah menemui satu hadith marfu’ (bersumber daripada Nabi Muhammad SAW) yang soheh menunjukkan atas thabitnya “membatalkan” Solat Witir.



Kemudian mendatangi tempat tidur.



(4) Membaca Surah al-Ikhlas, al-Falaq, an-Naa-s



Melalui perkhabaran Aishah RA yang diriwayatkan oleh Ahmad, al-Bukhari, Abu Daud, at-Tirmizi, an-Nasai (didalam ‘Amal al-Yaum Wa al-Lailah), Ibnu Majah.



أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ (ص) كَانَ إِذَا أَوَى إِلَى فِرَاشِهِ كُلَّ لَيْلَةٍ جَمَعَ كَفَّيْهِ ثُمَّ نَفَثَ فِيْهِمَا فَقَرَأَ فِيْهِمَا (قل هو الله أحد) وَ (قل أعوذ برب الفلق) وَ (قل أعوذ برب الناس) ثُمَّ مَسَحَ بِهِمَا مَا اسْتَطَاعَ مِنْ جَسَدِهِ يَبْدَأُ بِهِمَا عَلَى رَأْسِهِ وَوَجْهِهِ وَمَا أَقْبَلَ مِنْ جَسَدِهِ يَفْعَلُ ذَلِكَ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ



Maksudnya: Sesungguhnya Rasulullah SAW apabila masuk tidur setiap malam Baginda menghimpun dua tapak tangannya kemudian menghembus pada kedua-duanya, maka dibaca pada kedua-dua tapak tangan tersebut Surah al-Ikhlas, al-Falaq dan an-Naa-s. Kemudian Baginda menyapu dengan kedua-dua tapak tangan tersebut apa yang dapat disapu dari badannya bermula dari atas kepala, muka dan depan dari badannya. Baginda melakukan demikian tiga kali (yakni hembus pada dua tapak tangan, baca tiga surah tersebut dan sapu pada badan).



(5) Membaca Ayat al-Kursi (al-Baqarah: 255)



Berdasarkan kisah Abu Hurairah RA yang dibenarkan oleh Rasulullah SAW sebagaimana yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dimana syaitan mengajarnya keutamaan Ayat al-Kursi yang dibaca sebelum tidur:


إِذَا أَوَيْتَ إِلَى فِرَاشِكَ فَاقْرَأْ آيَةَ اْلكُرْسِيِّ , لَنْ يَزَالَ مَعَكَ مِنَ اللهِ حَافِظٌ , وَلاَ يَقْرَبُكَ شَيْطَانٌ حَتَّى تُصْبِحَ, فَقَالَ النَّبِيُّ (ص): صَدَقَكَ وَهُوَ كَذُوْبٌ , ذَاكَ شَيْطَانٌ



Maksudnya: Apabila kamu masuk tidur maka bacalah Ayat al-Kursi, akan sentiasa bersama kamu pemeliharaan dari Allah dan syaitan tidak akan menghampiri kamu hingga ke subuh. Maka bersabda Nabi Muhammad SAW: Apa yang ia beritahu kamu adalah benar dan dia adalah pembohong, itu adalah syaitan.



Disediakan oleh: Ustaz Ibrahim Mohd Raja al-Maniri

Sunday, October 17, 2010

Mawaddah - Taubat

video

~Hayati lirik yg disampaikan~

Mengapa Dosa Dirasakan Halal?

Pernah tak apabila seseorang diberitahu tentang sesuatu dosanya, maka dia menjawab, “biasa lah…”

Aku teringatkan satu kisah seorang alim dengan anak muridnya.

Satu ketika alim tersebut mengajak anak muridnya berjalan-jalan di luar. Kemudian mereka melalui kawasan berumput. Kata alim tersebut, “cabut rumput di bawah”. Anak muridnya segera mencabut rumput itu menggunakan dua hujung jarinya dengan mudah sekali.

Mereka berjalan lagi, melalui kawasan berpokok bunga renek. Kata alim tersebut, “cabut pokok kecil tersebut”. Anak muridnya segera mencabut pokok tersebut dengan genggaman tangannya.

Mereka berjalan lagi, melalui kawasan berpokok sederhana besar. Sekali lagi alim tersebut menyuruh anak muridnya mencabut salah satu daripada pokok-pokok itu. Kali ini anak muridnya tidak dapat mencabut dengan sebelah tangan. Namun setelah mencuba dengan kedua belah tangannya, maka pokok itu pun tercabut.

Mereka berjalan lagi dan menemui pokok-pokok kayu besar. Alim menyuruh anak muridnya mencabut pokok tersebut. Dengan sifat taat, anak murid itu cuba mencabut dengan kedua belah tangannya. Beberapa kali dicuba namun gagal. Lalu dia memeluk pokok itu dan cuba mencabutnya dengan sedaya upayanya. Malangnya dia tetap gagal mencabut pokok tersebut.

Lalu dia menantikan kata-kata gurunya tersebut. Kata alim tersebut, “demikianlah perbuatan dosa, awal-awal mudah untuk berhenti, namun jika dibiarkan lama-kelamaan menjadi susah untuk berhenti dan bertaubat.”

Semua orang melakukan salah silap dan dosa. Itu tidak dinafikan. Namun salah satu sifat orang beriman ialah dia akan merasa sesal dan gundah apabila melakukan apa-apa dosa dan kemaksiatan kepada Allah. Namun demikian apabila dosa tersebut diulang kali kedua, ketiga dan seterusnya, perasaan tersebut lama kelamaan akan menjadi hanya lintasan hati yang berlalu begitu sahaja. Akhirnya selepas melakukan dosa tersebut, hati tidak akan merasa kesal lagi.

Ditambah pula dengan tiadanya apa-apa masalah atau musibah yang menimpa diri, maka dia merasakan bahawa dosa tersebut perkara biasa. Seolah-olah hati menjadi lega walaupun setelah melakukan dosa, kerana tiada apa-apa hukuman yang dikenakan kepadanya secara tunai.

Walaupun umum mengetahui adanya hukuman di akhirat dan akan hilangnya berkat hidup di dunia, namun oleh kerana tidak ada apa-apa yang berlaku, semua itu tidak mahu difikirkannya. Berlainan dengan melanggar undang-undang jalanraya misalnya, dia akan dikenakan saman dan sebagainya. Maka sukarlah perkara melanggar undang-undang jalanraya itu menjadi kebiasaan manusia, kerana dia tahu dia akan dikenakan hukuman selepas itu.

Maka dosa tersebut akan dilakukan lagi dan lagi sehingga satu tahap, selepas melakukan dosa hati akan menjadi suka atau bangga. Pada peringkat ini dosa tersebut dilakukan kerana suka. Bila terasa suka untuk berbuat dosa, dia melakukannya. Bila tak suka, dia tak melakukannya.

Apabila keadaan ini berterusan, hati berubah daripada suka menjadi mahu dan perlu. Seolah-olah dosa yang dilakukan itu kerana dia mahu atau perlu melakukannya. Dan sekali lagi, oleh kerana tiada apa-apa yang berlaku kepada dirinya, maka dia merasakan melakukan dosa itu biasa, boleh dan halal.

Inilah dia peringkat-peringkat mengapa perbuatan dosa dirasakan halal oleh umat Islam. Mengapa perkara ini terjadi? Senang sahaja jawapannya. Semuanya berkaitan dengan iman, dan hanya iman. Apabila seseorang beriman melakukan dosa, iman menjadi luntur. Apabila dia berterusan melakukan dosa, iman tercabut. Dengan iman yang lemah, akan merubah hati menjadi suka melakukan dosa. Apabila iman terlalu lemah atau iman rosak, maka hati telah pun keras dan gelap dan sukar untuk menerima kebenaran.

Lantaran perbezaan iman inilah maka kita akan menerima beberapa jawapan apabila seseorang itu diberitahu tentang perbuatan dosanya. Contohnya,

Ya, Allah, nasib baik kau bagitau aku. Aku tak tau sebenarnya.
Eh, betul ke tak boleh buat.
Takkan tak boleh buat kot?
Ye ke…
Biasa lah tu…
Alah, itu pun nak bising.
So, apa yang akan berlaku kepada orang-orang macam ni? Bagi orang dalam peringkat awal, sebarang peringatan tentang dosa tersebut akan segera diubah. Dalam keadaan ini, dia tidak lagi melakukan dosa tersebut.

Bagi orang yang sering mengulang-ulangkan perkara dosa kerana tidak tahu atau tidak diberitahu, selepas diberitahu dia akan berhenti. Namun ada kemungkinan dia akan mengulanginya melainkan peringatan itu diulang lagi dan lagi.

Bagi orang yang melakukan dosa kerana suka, jika ada orang memberi teguran tentang dosa itu, hati menjadi berat untuk menerima perkara yang disukai namun perasaan suka itu masih lagi ada harapan bertukar menjadi tidak suka membuat dosa. Maka kadangkala dosa itu tidak dibuat bukan kerana ianya dosa, tetapi kerana dia tidak suka. Orang begini boleh berubah jika dia bertegas dengan perasaan tidak suka membuat dosa itu dan melazimkan dirinya membuat amalan agama yang lain.

Bagi orang yang merasakan mahu dan perlu membuat dosa pula, jika ada orang memberitahu bahawa itu satu dosa yang perlu ditinggalkan, maka hati menjadi susah untuk menerima bahkan lebih teruk lagi, hati menolak kebenaran tersebut. Maka usaha yang lebih kuat diperlukan supaya orang seperti ini berubah.

Kesimpulannya, jangan mulakan apa-apa sahaja bentuk dosa. Sama ada tinggal sembahyang, lambatkan sembahyang, tak keluar nisab bulanan atau tahunan dan sebagainya. Memang jelas betapa pentingnya usaha ingat mengingati dan ajak-mengajak kepada kebaikan dijalankan oleh semua orang Islam. Ia penting kepada diri sendiri dan orang lain juga.

copy dan paste dari sini

---

mari sentiasa bermuhasabah dan bertaubat.

Thursday, October 7, 2010

Taubat amalan mulia

Taubat bermaksud kembali kepada Allah dengan melepaskan ikatan perlakuan dosa-dosa secara berterusan dari hati yang ikhlas kemudian bangun dengan melaksanakan perintah Allah. Allah telah memerintahkan kepada seluruh orang-orang yang beriman untuk bertaubat.


Allah berfirman yang bermaksud : “ Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman nescaya kamu beruntung.” (an-Nur, ayat 31) Malahan Allah menyifatkan orang yang tidak mahu bertaubat termasuk dalam golongan yang zalim.

Allah berfirman yang bermaksud : “Dan barangsiapa yang tidak mahu bertaubat, mereka itulah orang-orang yang zalim.” (al-Hujurat, ayat 11)

Taubat merupakan sebagai satu penyucian diri daripada segala dosa yang dilakukan oleh seorang hamba terhadap Tuhannya di atas muka bumi sama ada disengaja ataupun tidak. Taubat adalah meninggalkan segala amalan maksiat yang dilakukan dan digantikan dengan amalan kebajikan.

Taubat mempunyai beberapa syarat dan rukun-rukunnya. Barangsiapa yang meninggalkan dosa semata-mata tanpa melakukan segala perbuatan yang disukai dan dicintai oleh Allah, maka ia tidak dipanggil orang yang bertaubat. Melainkan ia kembali dan mara menuju ke arah rahmat Allah. Antara syarat-syarat bertaubat ialah segera meninggalkan dosa, menyesali dosa yang dilakukannya, berniat tidak mengulanginya lagi serta mengembalikan hak-hak orang yang dizaliminya atau meminta halal darinya. Taubat hendaklah dilakukan semata-mata kerana Allah dan bukan kerana sebab lain seperti kerana takut celaan orang.

Oleh itu, orang yang hendak bertaubat mestilah menyesali perbuatan-perbuatan dosanya, menghilangkan segala keinginan berbuat dosa dan menyesali kelengahan taubatnya.

Sabda Rasulullah yang bermaksud : “ Menyesal itu adalah taubat.” (riwayat Ahmad Ibn Majah) Di samping itu, hendaklah ia merasa bahawa dosa itu adalah keji dan sangat berbahaya. Ini bererti taubat yang benar tidak mungkin disertai dengan perasaan senang apabila teringat dosa-dosanya yang lalu. Ibn Qaiyim menyebutkan tentang berbagai-bagai kesan buruk yang diakibatkan oleh perbuatan dosa iaitu menghilangkan ilmu, menjadikan jiwa hampa, mempersulitkan urusan, melemahkan atau mengelisahkan badan, menghalangi taat, menghilangkan barakah, mengurangi taufik, menyempitkan hati, melahirkan kejahatan-kejahatan yang lain, menjadikan ketagih kepada berbuat dosa, hina di ahdaapan Allah, hina di mata manusia, binatang-binatangpun melaknatnya, selalu terhina.

Ditabiatkan suka berbuat dosa, digolongkan sebagai orang-orang yang terlaknat, menghalangi terkabulnya doa, rosak di daratan dan di alutan, hilang rasa keislamannya, kurang rasa malu, melenyapkan nikmat Allah, mendatangkan bencana, mendatangkan perasaan takut, terjerat dalam belenggu syaitan, mati dalam su’ al-Khatimah (kematian tanpa iman) dan mendapat siksaan di akhirat. Inilah kesan yang diakibatkan oleh perbuatan dosa. Oleh itu, umat Islam perlu menjauhi perbuatan dosa dan segera bertaubat apabila mendapati dirinya terjebak dalam perkara maksiat. Ia berazam untuk meninggalkan maksiat dan berazam untuk taat kepada perintah Allah selama-lamanya.

Pintu rahmat Allah sentiasa terbuka luas dan Allah memberi peluang peluang bagi umat Islam untuk bertaubat dan dilarang sama sekali berputus asa.

Firman Allah yang bermaksud : “Katakanlah, wahai hamba-hambaKu yang telah melakukan perbuatan melampau batas ke atas diri-diri mereka, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah, sesungguhnya Allah mengampuni keseluruhan dosa, sesungguhnya Dia Maha Pengampun dan Maha Penerima taubat.” (al-Zumar, ayat 53)
Dalam pencarian taubat ini, hendaklah ia menjauhi tempat-tempat maksiat kerana khuatir terjerumus ke dalamnya lagi dan menjauhi orang-orang yang menghantarnya ke lembah maksiat. Wajib orang yang telah bertaubat menjauhi dan meninggalkan mereka dengan memutuskan hubungan di samping berusaha memberi peringatan jika kita mampu. Orang yang bertaubat hendaklah memilih teman-teman yang baik yang dapat menolongnya menjalani kehidupan yang baru. Hasil yang diperolehi oleh orang yang bertaubat ialah jiwanya akan tenang dengan kelazatan keimanan yang sememamgnya kelazatan itu tidak akan diperolehi kecuali orang yang memilikinya.

Orang yang bertaubat hendaklah yakin bahawa Allah Maha Pengampun walaupun ia melakukan dosa sebesar gunung kerana rahmat Allah amat luas.

Firman Allah yang bermaksud : “ Dan rahmatKu meliputi segala sesuatu.” (al-A’raf, ayat 156) Hadis Rasulullah juga menjelaskan bahawa orang yang bertaubat dari dosanya bagaikan orang yang tidak mempunyai dosa sama sekali. Taubat mempunyai kedudukan yang tinggi dan seseorang hamba memerlukan taubat setiap masa dan ketika selagi hayat dikandung badan. Syaitan sentiasa berusaha menyesat dan mendorongkan manusia ke arah kesesatan selagi roh belum terpisah dari jasadnya. Oleh itu, manusia perlu beritighfar dan memohon ampun dari Allah supaya terhindar dari ganguan syaitan. Masa untuk bertaubat terbuka luas selagi roh tidak sampai ke kerongkong. Tetapi apabila ajal maut sudah datang, pengakuan bertaubat tidak berguna lagi. Oleh kerana kita tidak mengetahui bila maut datang menjemput, seharusnya kita sentiasa melakukan taubat.

Sabda Rasulullah s.aw. yang bermaksud : “ Sesungguhnya Allah tetap menerima taubat seseorang hambaNya selama roh nyawanya belum sampai di kerongkong (hampir sangat kepada maut)” (riwayat Turmizi)

Terdapat empat kategori hamba ynag bertaubat.

Pertama orang yang melakukan maksiat kemudian bertaubat dari maksiat kemudian terus kekal dalam keadaan membuat amal kebaikan. Mereka ini dikategorikan sebagai orang yang tetap dalam taubatnya dan inilah dinamakan taubat nasuha iaitu taubat yang seikhlasnya kepada Allah. Mereka ini memiliki nafsu al-Mutmainnah iaitu jiwa yang tenang dan redha dengan ketentuan Allah. Allah mengambarkan sifat golongan ini dengan firmanNya yang bermaksud : “Kembalilah kepada Tuhanmu dengan keadaan engkau berpuas hati dengan segala nikmat yang diberikan, lagi diredhai di sisi Tuhanmu.” (al-Fajr, ayat 28)

Golongan kedua pula adalah orang yang telah bertaubat kepada Allah dan melakukan amal kebaikan tetapi dirinya masih terikat melakukan dosa-dosa kecil yang tidak dapat dielakkan. Apabila ia terjerumus melakukan dosa, ia segera bertaubat. Mereka ini mempunyai nafsu lauwamah iaitu nafsu yang mencela orang tabah berhadapan dengan perkara-perkara tercela tanpa ada rancangan terlebih dahulu. Nafsu jenis ini biasanya terdapat pada sebahagian besar orang pada zaman ini dan sebaik-baik bagi mereka adalah bertaubat.

Golongan ketiga adalah golongan yangf bertaubat dan terus kekal dalam keadaan bertaubat sehingga pada suatu ketika dia tidak mengawal diri lalu terjebak dalam keadaan maksiat. Walaupun begitu dia tidak pernah lalai dengan melakukan ketaatan kepada Allah. Nafsu ini dikenali sebagai nafsu musauwalah yang bermaksud nafsu yang memperdaya.

Perkara ini dirakamkan oleh Allah dengan firmanNya yang bermaksud : “dan sebahagian mereka yang lain mengakui akan dosa-dosa mereka. Mereka akan mencampuradukkan amal-amal yang baik dengan yang lain yang buruk. Mudah-mudahan Allah akan menerima taubat mereka, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mengasihani.” (al-Taubah, ayat 102)

Golongan keempat adalah golongan yang bertaubat dari melakukan kemaksiatan tetapi perkara ini hanya berlaku seketika. Kemudian dia kembali melakukan dosa-dosa tanpa bersegera untuk bertaubat malah terus bergelumbang dengan maksiat. Mereka ini termasuk dalam golongan nafsu Ammarah, iaitu nafsu yang mengajak melakukan perbuatan keji dan menjauhkan diri dari melakukan kebaikan.

Antara kesan buruk maksiat yang akan menimpa pada individu ialah cahaya iman dan ilmu akan tertutup. Ilmu adalah cahaya pada hati sedangkan dosa pula adalah titik hitam yang hanya menutup hati. Hati orang yang melakukan maksiat menjadi keras dan buas, khususnya hubungannya dengan Allah. Dosa juga menjadikan hatinya itu biasa dengan membuat keburukan sehingga hilang perasaan bahawa maksiat itu adalah satu perkara yang keji dan kotor. Di samping itu, tidak merasa benci melihat maksiat berleluasa di depan mata dan tidak ada niat langsung untuk menghalang perkara tersebut. Akhirnya maksiat akan menyempitkan segala urusan kehidupannya kerana orang yang sentiasa memohon ampun maka Allah akan membebaskannya dari segala kesusahan dan diberi rezeki tanpa disangka-sangka.

Rasulullah menyeru umatnya supaya memperbanyakkan beristighfar dan Rasulullah sendiri memohon ampun dan beristighfar lebih dari 70 kali setiap hari. Sabda Rasulullah yang bermaksud : “ Bertaubatlah kamu kepada Tuhan kamu, Sesungguhnya aku sentiasa memohon ampun kepada Allah dalam satu hari lebih dari tujuh puluh kali.” Saidatina Aisyah pernah bertanya kepada Rasulullah mengapa baginda banyak melakukan ibadat dan beristighfar sedangkan Allah telah mengampunkan segala dosa baginda yang lepas dan segala dosa di belakang hari. Jawab baginda: wahai Siti Aisyah! Apakah tidak wajar aku ini menjadi seorang hamba yang amat bersyukur kepada Tuhannya.?”

[taken from here]

Monday, October 4, 2010

IIUM Kuantan Open Day 2010 (IKOD 2010)


To all gen9, you all are invited to come for the IIUM Kuantan Open Day, yes. An Open Day. Open to all! 
(Cuti panjang kan, bolehla datang... ;-)) 

A lot of interesting events are going to be conducted including these:



Confuse about your career?

Tazkirah Maghrib by Ustaz Azhar Idrus
For further information and the schedule of events, please follow this link

Monday, September 13, 2010

jemputan ke majlis...

assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh...

sidang warga dewan yang dihormati sekalian..
sukacita dijemput semua anda ke majlis "keterbukaan perumahan"..

butirannya berikut seperti:-

tanggal 25/9/2010
dijemput banin wal banat(semua ex dq..xkre habis ke tak..)
ke alamat n0 15,jalan 7/144A,taman bukit cheras,56000..K.L..
cara kepergian dgn menaiki KTM yg menuju ke BANDAR TASIK SELATAN(BTS)
dari KL sentral ke BTS tiketnye harga RM!.00 tunai sahaja….
Naik teksi dr stesen BTS ke rumah hamba hanya RM7.++..(klu x sesat la…)
Or..nk kami jemput ng kete dr stesen pn boleh..dgn hanya mendail..03-91015444..
(dgn berkata..assalamualaikum..blh tlg amekkan kami kt stesen??)

Besar kiranya hati kami menerima kedatangan anda..moga bawa bersama seribu rahmat..
insyaAllah..

sebarang kemusykilan blh di’selatan’kan ke alamat zainaladlina@yahoo.com...

Dtg ye kwn2!!!
Selamat hari raya..maaf zahir batin…
~adlina~

Saturday, September 11, 2010

Salam Aidilfitri~


Selamat Hari Raya Aidilfitri

Maaf Zahir dan Batin

dari kami

Warga GEN9 DQ-UIAM

Salah silap harap dimaafkan..

~KULLU 'AM WA ANTUM BIKHRAIR~

Wednesday, August 11, 2010

Welcome to University Of Ramadhan!



Ramadhan Kareem..

Nahmaduhu..nasta’inuhu..nastaghfiruh..


AlhamduliLlah..Ramadhan yg sekian lama kita nantikn telah kunjung tiba..Ana yakin dan pasti bahawa sahabat2 sekalian telah tidak sabar2 utk memasuki ‘University Of Ramadhan’ ini.(em,cam thiqah sgt je bunyi ‘ana’ tu).Seperti mana lumrah bagi setiap universiti,semestinya akan ada sessi suai kenal yg sinonimnya kita kenali sebagai Ta’aruf Week. Mengaitkan dengan ‘UOR’ ini,kebiasaannya Ta'aruf week atau akronimnya TaWe berlaku dlm minggu pertama sejurus mana kita meng’register’kan diri sebagai studentnya dengan ‘akur janji’ di permulaannya. Kebanyakan kita baru ingin menjinak2kn diri utk meng’adapt’ suasana yg berbeza di UOR ini (sesuai dgn makna Ramadhan itu sndiri). Saya ‘haqqul yaqin’ bhawa puasa ini adalah bukan sesuatu yang janggal bagi ‘antum orang’ oleh kerana kebanyakannya sudah well-prepared sebelum memasuki UOR (almaklumlah puasa sunat isnin & khamis tak pernah tinggal).


Apa yang istimewanya UOR ini,setiap hari yang mana sebelum kita memasuki ‘kelas2’ yg disediakan oleh pihak UOR ,kita kena perbaharui nawaitu kita di permulaan hari. Menarik bukan. Bagi sahabat dan sahabiah,saya yakin dan pasti antum orang dapat survive dalam minggu TaWe ini. Sesuatu yg agak menarik, kelas2 yg disediakn dalam UOR ini tidak menggunakan sistem attendance yg perlu dihadiri sekurang2nya 80%(ye ke?) daripada overall kelas bagi sesuatu subjek tu utk melayakkan kita menduduki exam di penghujungnya(kalaulah UIA buat sistem camtu kan bgus). Tapi,saya yakin antum orang akan menghadiri sebanyak mungkin kelas2 yg disediakn (dengan husnu zhan yg teramat) tanpa risau akan attendance. Mudahnya, mahu atau tidak utk kita hadiri sesuatu kelas di UOR ini ‘hundred percent’ly bergantung kepada diri kita. Inilah yg melabelkan ‘gpa’ kita di sisi pemilik UOR. Dengan kata lain, sebagaimana antum orang berlumba2 utk mencapai dean’s list dgn gpa 4 flatnya (terutamanya bagi medic student) seperti itulah perlunya kita berlumba2 utk mendapatkn “Allah’s list”(yg pasti tiada surat yg akn smpai di rumah).


Apa yg ingin saya bawakan sebenarnya adalah mengenai kecenderungan kita sebagai student dan kita sebagai hambaNya. Pengaplikasian amalan mestilah ada dalam peranan kita sebagai student universiti tidak kira di mana2 jua universiti yg antum org berada yg hanya sementara sifatnya kepada peranan kita yg paling penting sebagai 'student of life'. Tentunya sebagai student kita tidak mahu fail dalam apa jua kos yg kita ambil. Jadi,as ‘precaution step’ perlulah kita utk menghadiri kelas di UOR ini dgn bersungguh2. Dan yg penting, apa2 input yg kita dpt melalui kelas2 UOR ini dapat kita aplikasikan di luarnya, bukan seperti kebanyakan student yg belajar hanya fokus utk periksa; dan natijah di luarnya tiada pengamalan terhadap ilmu.(antum org x kn?)




Tuntasnya, dalam bulan Ramadhan ini harapnya kita dapat berlumba2 utk melakukan sebanyak mana amalan yg mungkin. Bagi sahabat2 yg hafiz Quran, mungkin bulan ini adalah masanya yg paling sesuai utk antum org me’masyi’kan lagi quran yg ada walaupun sedia masyi. Semoga natijah diberi nanti adalah setimpal dengan amalan yg kita lakukan sepanjang bulan Ramadhan ini. Dan semoga kita tergolong dalam kalangan hambaNya yg layak utk memperoleh anugerah ‘Piala taqwa’ yg teragung dgn 'cgpa' yg cemerlang beserta 'bonus' berupa voucher 1 malam lebih baik drpd seribu bulan. Akhirul kalam, selamat menghayati Ramadhan Al-Mubarak. Tajdid niat,ikhlaskan hati; LiLlahi ta'ala. Selamat Beramal!

Sekian,wassalam.

(p/s: sori la ye,bhasa bersepah sket)

Wednesday, August 4, 2010

Ahlan Wasahlan Ya RAMADHAN!

Persiapan Ramadan



Bulan Islam



Kurang daripada seminggu lagi, umat Islam di seluruh pelusuk dunia akan menyambut kedatangan bulan yang paling mulia, Ramadan Al-Mubarak. Bicara soal sambut-menyambut tentulah perlu ada persiapannya. Sepertimana kita hendak menyambut kedatangan YB ke tempat kita. Mungkin ketika ini ramai orang sudah membuat persiapan bagi menyambut ketibaan Ramadan. Namun, persoalannya bagaimanakah persediaan itu?

Persiapan yang mesti dibuat hendaklah merangkumi persiapan fizikal, mental dan ruhani untuk menyambut Ramadhan Al-Mubarak.


Apakah persiapan fizikal?

Persiapan fizikal bukanlah "pulun" habis-habisan sebelum menyambut Ramadhan. Bukannya memastikan perut mampu bertahan menghadapi Ramadhan dengan bekalan makanan yang menjadi isi perut sehingga bertambah beberapa kilogram berat badan!

Persiapan fizikal ialah melatih diri berpuasa. Sebagaimana kita perlu warming up ataustretching dahulu sebelum masuk gelanggang. Hal ini bagi memastikan kita bersedia dan biasa dengan keadaan berpuasa. Menahan lapar dan dahaga dan banyak mengerjakan amal soleh. Bahkan, berpuasa pada bulan Rejab dan Syaaban amat digalakkan dalam Islam. Sunat. Rasulullah tidak pernah berpuasa lebih banyak pada bulan lain melainkan Syaaban. Kita hendaklah memastikan kesihatan kita berada dalam keadaan yang baik supaya mampu berpuasa dengan sempurna. Alangkah ruginya jika kita mendapat sakit di bulan Ramadan sedang orang lain ralit berpesta ibadah. Sudahlah bulan lain tidak banyak amalan kita. Malangnya, bulan yang digandakan pahala ini juga kita tidak dapat mengerjakannya. Apa lagi yang ada pada kita untuk berdepan dengan Allah di hari Akhirat?


Persiapan yang kedua ialah akal.

Persiapan akal ialah kita sudah bersedia dengan ilmu. Ramai orang berpuasa tetapi punyai ragu-ragu dalam berpuasa dan beribadah di bulan Ramadhan. Ada yang tidak mengetahui apakah ibadah-ibadah yang afdal di bulan ini. Inilah perlunya persiapan ilmu. Lebih teruk lagi, ada yang melakukan persiapan untuk menghadapi hari-hari puasanya yang tentunya banyak masa lapang dengan membeli DVD pelbagai cerita; cerita Korea, Hindustan, Sepanyol, Amerika, cerita lawak dan entah apa-apa cerita lagi. Supaya diri tidak merasa bosan sementara menunggu waktu berbuka. Inilah yang diisi dalam kepala otak mereka!

Alangkah baiknya jika ia diisi dengan ilmu ukhrawi dan ilmu duniawi yang bermanfaat. Hari ini pelbagai jenama penerbit buku telah mengambil inisiatif untuk highlight buku-buku yang khusus bagi bulan-bulan tertentu. Contohnya bulan Ramadan bakal tiba ini, ada flyerskhusus senarai buku-buku berkaitan Ramadan. Ada juga kedai buku yang membuat rak khas buku-buku Ramadan. MasyaAllah...Betapa baiknya jika kita hadam buku-buku itu di siang hari sepanjang Ramadan. Bukan saja dapat mengisi masa yang terluang, manfaat ilmu dan pahala juga kita peroleh.

Persiapan mental yang paling utama ialah setkan matlamat bahawa kita berpuasa ini untuk menjadi hamba Allah yang bertaqwa!

Yang dikatakan persiapan ruhani itu adalah mendidik nafsu kita.

Latihlah diri untuk mula bangun awal supaya dapat bersahur. Bukan untuk kekuatan di siang hari tetapi ia juga adalah suatu ibadah. Paling baik bangun lebih awal sedikit supaya sempat berqiamulail sekurang-kurangnya solat sunat Tahajud dan sunat Taubat. Giatkan lagi pembacaan al-Quran supaya lebih fasih dan tidak terasa berat untuk membaca lebih banyak di bulan Ramadhan. Perbanyakkan amalan sedekah di bulan Ramadan. Kalau boleh buat satu checklist harian atau jadual supaya kita boleh mendisiplinkan diri dengan rutin ibadah dan memastikan kita tidak meninggalkan nikmat beribadah di bulan yang mulia ini.


Ramadan


Akhir sekali, yang paling penting ialah istiqamah. Tidak kira Ramadan atau bukan Ramadan, kita tetap rajin beribadah. Jangan bermusim dalam ibadah. Ramadan bukanlah bulan penuh dengan adat tetapi ibadah! Justeru, tanamkan dalam hati kita untuk terus istiqamah dalam mengerjakan amal soleh kepada Allah SWT. Terus istiqamah untuk mengimarahkan rumah Allah. InsyaAllah.Selamat beramal!!

Sekian.Wassalam.

www.iluvislam.com

Friday, July 9, 2010

ni haou ma??

Bacalah...Dengan Nama Tuhanmu
Kaifa haluk ya nafsy?
Apa kabar wahai diriku?
Apa warna mu hari ini?
Sudah lama a...ku tak memperdulikan keadaan dirimu
Masih kah dirimu seperti dahulu?
Masih kah Allah menjadi kecintaan utamamu?
Masih kah nikmat iman menyertaimu?
Apa kabar wahai diriku?
Rindu rasanya aku ingin merasakan lazatnya saat melihat mu menangis saat mengingat maksiat-maksiat yang mengiringi hari harimu.
Apa kabar wahai diriku?
Bagaimana amal-amal mu kemarin?
Apakah masih sama seperti hari ini?
Apakah kau menjadi diri yang puas dengan prestasi amal mu yang tak pernah meningkat?
Wahai hatiku ……bagai mana dengan mu?
Apakah kau masih sibuk dengan impian impian dunia dan melalaikan bekal akhiratmu?
Berapa banyak bahasa Allah yang kau baca hari ini?
Atau bahasa manusia menyempitkan perkataan mu hingga kau terlena?
Apa kabar wahai diriku?
Berapa amanah yang kau sia siakan hari ini?
Wahai diriku….apa yang memberatkan langkah mu?
Apa yang menghalangimu untuk menambah imanmu?
Wahai diriku, betapa kau menjadi manusia yang angkuh….betapa dirimu selalu hanyut dalam tidur malammu yang panjang tanpa pernah menemui Rabb mu….
Wahai diriku yang bahkan tak sanggup melawan panas nya api dunia,
Apakah panasnya jahannam sanggup kau tahan wahai diriku?
Apa yang membuat hati mu begitu mudah dikotori?
Apa yang membuat lidahmu begitu menyakiti?
Apa yang menghalangimu mendapatkan cinta Allah?
Wahai diriku…cinta mana yang kau kejar?
Wahai diriku, kebahagiaan mana yang kekal untukmu?
Wahai diriku yang egois, wahai diriku yang penuh maksiat, wahai diriku yang tak pernah bersyukur, wahai jiwa yang tamak…Tuhan mana yang kau kira memberimu rizki?
Wahai diriku, syurga tuhan mana yang kau harapkan?
Apa kau begitu memuja keindahan dunia yang fana
Wahai diriku yang merasa ”cakep”
Nikmat mana yng telah kau syukuri?
Jawablah wahai diriku………


Sumber : Puisi & Artikel Sebagai Ungkapan Isi Hati Islam
dari sini

Thursday, July 1, 2010

main campus ( UIA )

bismillah.

Kampus Kuantan

Medic
-Ahmad Afiq Bin Arshad
-Wan Muhammad Adib Bin Wan Mohamad Fathi

Dietetic
-Nurul Aimi Shamsudin

Kampus Gombak

Business Management
-Ahmad Najmullah Bin Sinang

Economics
-Mohd. Hasbullah B. Mohamad Faudzi
-U'mar Bin Zulkifli
-Siti 'Aishah Jauhara Binti Surtahman

Engineering (Aerospace)
-Muhammad Yasin Bin Arwani
-Nik Mohammad Uqbah Bin Nik Mohd. Azam

Engineering (Mechatronic)
-Muhammad Zulhilmi B. Atan

Engineering (Communication)
-Norhayati Ghazali

Islamic Revealed Knowledge ( Fiqh Wa Usul Fiqh)
-Zainab 'Aqilah Binti Mat Daud

Architecture (Applied Arts and Design)
-Naqiuddin Ahmad

Architecture ( Urban Regional Planning)
-Muhammad Fadhlullah Bin Najimuddin
-Mohamed Dhiyauddin Bin Samsudin
-Muhammad Zuhairi Bin Che Din

Architecture (Quantity Surveyor)
-Muhammad Adib Azman
-Noor Fathihah Fatin Binti Jaffri

doakan yang terbaik untuk kita semua.

p/s:
1) masuk 6hb Julai ini insyaALLAH :)
2) JPA dah boleh apply bermula hari ini [link]


Thursday, June 24, 2010

berkat [ edisi cuti ]

bismillah walhamdulillah.

ini trademark afiq eh? :P

ok, rasanya dah lama tak tulis entri sendiri dekat blog gen ni. rasa2 paling baru pun berapa baris je ayat sendiri. yang lain semua kopi dan pasta punya gaya. biasalah. tapi ada link sekali lah.

sementara tengah cuti dan sementara tak cuti sorang2, saya rasa ada benda yang boleh tahan best jugalah untuk kongsi dengan yang sedang bercuti di rumah. *bestkan? :D*

ada sekali tu dengar ada budak kecil cakap, bila ada orang tanya kenapa dia rajin solat tahajjud.
dia balas,
sebab mak cakap seumur hidup kena solat tahajjud ni paling kurang sekali.
tapi tak tahulah kalau yang sekali tu Allah terima tak.
jadi kena la solat banyak kali.

berbalik kepada situasi kita yang sedang seronok di rumah ni,
apa kata rajin2kan diri anda mengemas rumah. nak menambat hati mak kita, takkan kemas rumah sekali je. kemas banyak kali. kalau boleh tiap2 hari terus.

nanti nak sambung belajar masuk main campus baru la mak kita macam rasa kehilangan sikit bila kita dah tak ada kat rumah. secara tak langsung akan selalu teringat akan kita sekaligus selalu la depa doa kat kita. ye dak?

baru la senang belajar.insyaALLAH.

p/s: pembaca digalakkan berumur lingkungan 10-12tahun =)

Tuesday, June 22, 2010

fruit flies~

Everyone in class listens closely when a knowledgeable student explains some facts to his university professor. Evolutionary theory is a myth. God created everything; the evidence clearly points to it. Nothing else can explain the mountain of evidence. This is science vs. evolution 'Creation Science Facts' expos .

Instructor: There are millions of marvelously designed life forms in the world today, and they all evolved by natural selection.

Student: But prof, natural selection is nothing more than "accidental changes."

Instructor: Natural selection is amazing in what it can produce, and it is all done randomly.

Student: But prof, random action could produce only a very few usable combinations. All the rest would be useless or lethal.

Instructor: We have many evidences of evolution by natural selection in the world today and in the fossil record.

Student: But prof, those evidences only consist of subspecies changes, and that is not evolution. Only change across species could produce evolution.

Instructor: The very fact that there are any changes at all substantiates natural selection.

Student: But prof, such changes are but the result of gene shuffling within the genetic pool permitted by the DNA code governing each species. It is not evolution.

Instructor: The peppered moth is a powerful example of evolution. In fact, it is about all we, I mean one of the best we have.

Student: But prof, both are merely varieties of the same species, Biston betularia.

Instructor: Then there are resistant flies and bacteria.

Student: But prof, the flies are still flies and the bacteria have not switched species either.

Instructor: Natural selection operates by changing one little part and later another. All are slow, gradual, random changes.

Student: But prof, the principle of syntropy requires that everything must be in place instantly, or the organism cannot survive more than a few moments. The liver could not wait millions of years for the heart to be invented.

Instructor: The very fact that different species exist is the best proof that natural selection must have produced them.

Student: But prof, the very fact there are different species no halfway species between them proves that natural selection did not produce them. There should be no distinct species at all.

Instructor: The very randomness of natural selection is its most striking factor.

Student: But prof, to assume that random activity produced all the wonders of nature is to make a god of chance actions.

Instructor: Along with natural selection or instead of it many believe that mutations are the key to evolutionary change. According to this view, which has strong evidence supporting it, random mutations produce all the marvelous creatures in the world about us.

Student: But prof, there is no evidence supporting evolution by mutations. In contrast, there is clear-cut evidence against it.

Instructor: Millions upon millions of chance mutations were needed to produce even one new species.

Student: But prof, mutations are extremely rare in nature. They rarely occur.

Instructor: These mutations worked harmoniously, beneficially to produce all our plant and animal life.

Student: But prof, all mutations are harmful! Most are weakening or damaging, and many are outright lethal!

Instructor: As with natural selection, mutations randomly occur and do their great work by producing random effects.

Student: But prof, randomness could never produce even one new species, much less all of them. The precisioned requirements and interworking of structures and functions within each plant and animal require careful thought, accurate design, and competent craftsmanship. Randomness could never do the job.

Instructor: Fortunately, there were millions of years for the task to be completed.

Student: But prof, everything had to be there, perfect, and all at once, or immediate death would result.

Instructor: The beneficial effects of mutations can be seen all about us.

Student: But prof, not once has a beneficial mutation ever been recorded. They always only harm, damage, weaken, or kill outright.

Instructor: Little changes here and there produce great results over a period of time.

Student: But prof, it has been found that mutations, which are always harmful, have widespread damaging effects on genes.

Instructor: It was not until the use of X rays and mutagenic chemicals that mutations could be intensively studied. The effects of immense numbers of X rays have been studied on millions of generations of fruit flies and other lab creatures.

Student: But prof, this mass of knowledge has only confirmed that mutations are always harmful and are totally incapable of changing one species into another.

Instructor: Given enough mutations over a great enough period of time, anything can happen; which is why we know mutations can produce new species.

Student: But prof, using computers mathematicians have found there isn't enough time in a trillion trillion trillion years for mutations to produce even one new species.

Instructor: Mutations accomplish so much.

Student: But prof, the best mutations accomplish the least and therefore damage the least. Those that accomplish the most, kill outright, for they damage in such big ways.

Instructor: Thus we see that mutations are the chief source of evolution.

Student: But prof, new genetic information would be needed for one species to evolve into another. But mutations only warp and damage existing data; they provide no new information.

Instructor: Every mutational change is a step in the right direction.

Student: But prof, organic change requires positive networking changes, and these mutations could never accomplish.

Instructor: The greatest evidence that mutations can produce changes is to be found in fruit fly research.

Student: But prof, all the changes were damaging, and none changed fruit flies into something else. They remained fruit flies.